CINTA
Mahabbat (cinta) dikatakan berasal dari hibbat, yang merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di tengah gurun. Nama hubb (cinta) diberikan kepada benih-benih gurun tersebut (hibb), oleh karena cinta merupakan sumber dari kehidupan yang adil sebagaimana benih yang merupakan asal tanam-tanaman. Seperti halnya jika benih-benih itu ditebarkan di gurun, mereka lantas terpendam di bumi dan hujan jatuh di atasnya dan matahari menyinarinya dan panas serta dingin lewat atasnya, namun benih-benih itu tak terpengaruh oleh perubahan musim, namun tumbuh dan memunculkan bunga-bunga dan memberi buah, begitulah cinta, bila ia memilih tempat kediamannya dalam hati, tak terganggu oleh kehadiran dan ketakhadiran, oleh suka atau duka, oleh perpisahan atau persatuan. Yang lain mengatakan bahwa mahabbat berasal dari hubb, yang berarti “sebuah kendi yang penuh genangan air”, oleh karena bilamana cinta terkumpul dalam hati dan memenuhinya, tak ada lagi ruang bagi pikiran kecuali sang kekasih, sebagaimana Shibli mengatakan: “Cinta disebut mahabbat oleh karena ia menghapus (tamhu) dari segala hal selain kekasih.” Yang lain mengatakan bahwa mahabbat berasal dari hubb, yang berarti “empat keping kayu di atas mana kendi air diletakkan”, oleh karena seorang pencinta merasa ringan membawa apa saja yang ditimpakan oleh kekasihnya kepadanya, pujian atau hinaan, duka atau senang, kata yang baik atau yang jelek”. Menurut yang lain, mahabbat berasal dari habb, bentuk jamak habbat, dan habbat adalah teras hati di mana cinta berdiam. Dalam hal ini, mahabbat disebut dengan nama tempat-kediamannya, suatu prinsip yang punya contoh bermacam-macam di dalam bahasa Arab.
Yang lain mengasalkannya dari habab, “air yang mendidih dan semangat yang melonjak, ketika hujan lebat turun”, oleh karena itu cinta adalah semangat hati dalam merindukan persatuan dengan kekasih. Apabla tubuh mendapatkan hidup dari ruh (nyawa), maka begitulah hati memperoleh hidup dari cinta, dan cinta memperoleh hidup dari penglihatan batin tentang, dan persatuan dengan, kekasih. Yang lain lagi, menyatakan bahwa hubb dipakai untuk cinta murni, oleh karena orang-orang Arab menyebut kemurnian mata manusia habbat al-insan, sama seperti menyebut kelamnya kalbu yang murni habbat al-qalb: yang kemudian adalah tempat diam cinta, yang sebelumnya penglihatan batin. Di sini hati dan mata saling berlomba dalam cinta, sebagaimana penyair menyatakan:
Hatiku mencemburui pandangan senang mataku
Dan mataku iri pada kekhusyukan hatiku
Uraian
Anda harus paham bahwa istilah “cinta” (mahabbat) dipakai oleh ahli kalam dalam tiga arti. Pertama, sebagai keinginan yang tak putus-putus terhadap sasaran cinta, dan kecenderungan hati serta birahi, di mana ia hanya merujuk pada wujud-wujud ciptaan dan pengaruh timbal balik satu sama lain, tapi tak terpakai untuk Tuhan, yang luhur melampaui segala ini. Kedua, berarti Kemurahan Tuhan dan keistimewaan yang Dia berikan kepada yang dipilih dan diperkenankan memperoleh pangkat kewalian yang sempurna dan secara khusus berada dari aneka mukjizat biasa. Ketiga, berarti pujian yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang baik amal perbuatannya (thana-yi-jamil).
Filosof-filosof Skolastik mengatakan bahwa Cinta Tuhan, yang Dia nyatakan supaya diketahui oleh kita, bertalian dengan sifat-sifat yang lazim, seperti wajah-Nya dan tangan-Nya dan tempat duduk-Nya sendiri yang kuat dan arasy-Nya (istiwa), dari mana keberadaan dari titik pandang akal bisa tampak mungkin jika tak dinyatakan sebagai sifat-sifat Ilahi di dalam Qur’an dan Sunnah. Karena itu kita meneguhkannya dan meyakininya, namun pemahaman mengenai itu terhalang. Pengertian Skolastik ini menolak istilah “Cinta” dapat dipakai kepada Tuhan dalam segala artinya seperti yang telah saya bicarakan. Sekarang saya akan menerangkannya kepada anda soal ini sebenarnya.
Cinta Tuhan kepada Manusia adalah kehendak baik-Nya terhadap manusia dan Kasih-sayang-Nya kepada manusia. Cinta adalah sebuah nama dari kehendak (iradat)-Nya, seperti halnya “puas”, “marah”, dan “murah hati” dan lain-lain, dan Kehendak-Nya merupakan sifat kekal darimana Dia menghendaki tindakan-tindakanNya berlaku. Singkatnya, cinta Tuhan kepada Manusia mencakup penampakan karunia yang lebih kepada manusia, dan pemberian ampunnya di dunia ini dan hari kemudian, dan membuatnya berkedudukan mulia dan mencapai tingkatan tinggi dan menyebabkannya memalingkan pikirannya jauh-jauh dari segala yang selain Tuhan. Bilamana Tuhan secara khusus membedakan seseorang di jalan ini, maka kekhususan kehendak-Nya disebut cinta. Inilah ajaran Harith Muhasibi dan Junayd dan sebagian besar Syekh-syekh Sufi sebagaimana ahli-ahli syariah menganut aliran ini dan kebanyakan filosof Skolastik aliran Sunnah juga berpegang pada pandangan serupa.
Mengenai pernyataan yang menyebut bahwa cinta Ilahi merupakan “pujian yang diberikan kepada orang amal perbuatannya baik” (thana-yi Jamil bar banda), pujian Tuhan adalah kalam-Nya, yang tak tercipta; pernyataan bahwa cinta Ilahi berarti “kasih sayang”, kasih-sayang-Nya tercakup dalam tindakan-tindakan-Nya. Di sinilah perbedaan pandangan yang pokok muncul yang bertalian erat satu sama lain.
Cinta manusia kepada Tuhan adalah kwalitas yang menyatakan diri dalam kalbu orang yang beriman sungguh-sungguh, dalam bentuk pemujaan dan pengagungan, sehingga ia mencari Pemenuhan Kekasihnya dan menjadi tak sadar serta gelisah dalam keinginannya untuk melihat-Nya dan tak dapat diam dengan sesuatu kecuali Dia, dan bertambah akrab dengan zikir (dhikir, mengingat) terhadap-Nya dan melupakan ingatan terhadap segala hal di sampingnya. Dia yang mengetahui cinta sejati tak akan mengalami kesulitan, dan semua keraguannya lenyap. Cinta, lantas, ada dua jenis – (1) cinta antara sesama, di mana nafsu digerakkan oleh jiwa yang lebih rendah dan mencari dzat obyek yang dia kasihi melalui hubungan seksual. (2) cinta seseorang kepada yang tak sejenis dengan obyek cintanya dan yang mencari kedekatan kepada sifat-sifat dari obyeknya, misalnya mendengar tanpa berkata-kata, atau melihat tanpa mata. Dan orang beriman yang mencintai Tuhan ada dua jenis – (1) mereka yang memandang kepada karunia dan kasih sayang Tuhan dan dibimbing oleh pandangan itu dalam mencintai Yang Maha Penyayang. (2) mereka yang begitu tertawan oleh cinta di mana mereka memandang segala karunia sebagai tirai (pemisah antara dirinya dan Tuhan) dan beranggapan bahwa Yang Maha Pengasih bergerak menuju (kesadaran-diri) dari yang dikaruniai. Cara yang terakhir adalah lebih tinggi di antara keduanya.